Allo,...... Ini cerpen kedua saya yang saya publikasikan. Maaf, ya lama bangetssss. Oke, nggak usah nunnggu lama lagi, ini diaaaaa, voila ......
Semoga terhibur, semoga menginspirasi juga ^^
-------------------------------------------
149-20
“Adit, Kiki.” panggil seseorang lembut.
“Ada
apa, Dhe?”
“Nih.” Dhea memberikan sepucuk
surat, “Dari Nindy sebelum ia ……..”
“Sssstttt.” Adit
memeletakkan telunjuknya di bibir Dhea. Ia menggeleng.
Dhea
berkaca-kaca.. Kiki menepuk punggungnya. Dhea memeluk Adit. Terisak.
***
|
Aku hadir dengan kata
Kata di antara kita
Ingin aku melukis wajahmu
Tapi aku tak pandai
Ingin aku berteriak
Aku Adam dan kau Hawa
Tapi aku tak mampu
Ingin aku menulis
Maka kutulis namamu
: Nindy Pangestuti
149_20
|
“Seratus empat puluh Sembilan dua puluh?”
ucap Dhea.
Nindy mengangguk.
Ini adalah kali ke-13 Nindy mendapat surat. Surat beramplop biru itu
selalu nangkring di meja Nindy tanpa nama penulis yang jelas.
“Hey, Non.” Kiki dan Adit, sahabat mereka, dating.
“Ada apaan?” tanya Kiki.
“Ada surat yang entah keberapa dari seratus empat puuh Sembilan dua
puluh.” Jawab Dhea, “Menurutmu?”
“Yang pasti dia cowok! Yak an, Dit?”
Adit mengangkat bahu, “No Comment.”
Bel pelajaran berbunyi. Seorang wanita tinggi berjuluk killer
memasuki ruangan dengan setumpuk buku.
“Pagi, Anak-anak.” Sapa Bu Rossi tegas.
“Pagi, Bu.”
“Sampai di mana pelajaran kita?”
“Majas!” Ibu Rossi menulis kata itu di whiteboard, “Buka halaman
21!”
“Majas, apa itu? Ada yang tahu?”
Semua diam.
“Buka catatan kemarin, kalau tidak salah saya sudah pernah
menuliskannya. Angkat tangan bagi yang ingin menjawab!”
Tak disadari, Adit mengangkat tangan.
“Aditya, apa jawabanmu?”
“Majas itu kiasan yang dapat membangkitkan daya tarik.” Adit
menjawab dengan tenang.
“Iya!” kata Bu Rossi denganpeningkatan nada satu oktaf, “Ada yang
lain?”
Tak ada satu anak pun yang berani mengangkat tangan.
“Baiklah!” Ibu Rossi menyerah, “Jawaban Aditya diterima”
Adit tersenyum dingin. Dhea dan Nindy saling pandang. Bagaimana bisa
jawaban cowok yang selau cuek ini bisa diterima oleh Ibu Rossi. Pasti ada
apa-apanya pikir Dhea.
Tiga jam yang melelahkan pun selesai. Kini waktunya istirahat.
“Nin, lihat suratnya!”
“Semua?”
Dhea mengangguk.
“Nih.” Nindy menyerahkan beberapa surat.
“Aku masih penasaran siapa pengirimnya.”
“Nggak usah terlalu dipikirin gitu. Ntar stress, lho.”
“Yeee, ngedoain, ya.”
“Nggak, bercanda aja.”
“Tapi gimana dia tahu kalau kamu suka warna biru?”
“Darimana kau tahu kalau dia tahu aku suka warna biru?”
“Entahlah. Semua suratnya beramplop biru.”
“Iya, sih. Tapi mungkin cuma kebetulan.”
“Kebetulan!” teriak Dhea, “Sorry, ngggak ad kebetulan yang
terus-terusan.”
“Bisa aja kam dia beli amplopnya satu lusin biar nggak repot.”
“Ada-ada aja.” Tanpa disengaja, Dhea melihat Reza yang baru saja
masuk kelas dengan menggendong tas basket transparan. Dhea memperhatikan tas
itu. Tangannya menggapai lengan Nindy. Nindy yang kaget lalu menoleh.
“Ada apa?”
“Itu.” Dhea menunjuk tas reza.
“Apaan, sih?” Nindy masih bingung, “Oh!” Mata Nindy berbinar,
“Amplop.”
Kiki tiba di kelas gengan membawa aneka makanan kecil di tangan.
“Mborong, nih.” Kata Dhea.
“Nih, buat lu.” Kiki menyodorkan satu bungkus coklat.
“Makasih.”
“Eh, kita tahu siapa yang kirim surat itu.” Kata Nindy.
Adit datang dengan tangan di dalam saku.
“Siapa?” Tanya Kiki.
“Ada apa, sih?” Tanya Adit yang baru saja duduk di meja.
“Katanya pada udah tahu orang yang kirim surat itu.”
Adit terlihat kaget. Dhea sempat melihat gelagat Adit.
“Cuma dugaan sementara, sih.” Nindy mengklarifikasi.
“Iya, siapa?”
“Reza.”
Ada kolaborasi antara lega, heran dan sedikit colokanmarah di wajah
Adit. Kok bias pikirnya.
“Menurut kalian gimana?” Tanya Dhea.
“Apanya?” Tanya Adit, namun tidak ditanggapi. Hanya Dhea yang
tersenyum melihat kesalahtingkahan Adit.
“Darimana kalian tahu kalau kepala bola itu yang kirim?” Tanya Kiki.
“Hah! Kepala Bola!” kata Dhea setengah berteriak.
Si kepala bola menoleh kesana-kemari.
“Jangan keras-keras, oon.” Kiki menjitak kepala Dhea.
“Maap.”
“Gini, tadi aku liat ada beberapa amplop kayak gitu di tas Reza.”
Jelas Nindy.
“Amplop.” Adit mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, “Kayak
gini?”
“Iya. Kok kamu punya?” Tanya Dhea.
“Iyalah. Ini undangan ultah. Tuh, punya kalian dibawa Kiki.”
Dhea dan Nindy saling pandang. Kiki menyodorkan dua amplop dan pergi
keluar.
“Jadi bukan Reza.” Dhea menerima amplop itu.
Nindy tampak terhuyung dan memegangi kepala, “awww.”
“Nin, kamu kenapa?” Tanya Dhea.
“Nggak apa-apa. Aku mau ke kamar mandi.”
“Aku anter, ya.”
“Nggak usah. Aku sendiri aja.” Nindy berlalu.
“Adit turun dari meja dan duduk di samping Dhea, di kursi yang
tadinya diduduki Nindy.
“Siapa, ya?” Dhea membuka salah satu surat, “Seratus empat puluh
Sembilan dua puluh.”
Adit menggeleng pelan. Ia mengambil salah satu surat.
“Mungkin cara membacaku salah.” Dhea mengambil pulpennya dan menulis
di balik surat, “Coba kalau Satu empat Sembilan dua nol.”
Dhea sibuk mencoret-coret kertas sedangkan Adit tenggelam dalam
surat-suratnya.
Dhea melihat Adit yang membeku dan meletakkan pulpennya, “Dit.”
Adit menoleh.
“Aku tahu.”
“Apa?”
“No comment.”
Adit tersenyum.
“Adit, Dhea!” teriak Anita di depan pintu tiba-tiba, “Nindy. Nindy
pingsan.”
“Apa?” teriak Adit dan Dhea bersamaan.
****
“Sore harinya, Dhea, Kiki dan Adit tiba di rumah sakit. Nindy harus
dirawat. Di kamar 40 dia dirawat.
“Tante, gimana keadaan Nindy?” tanya Dhea di depan kamar Nindy.
“Nindy barusaja selesai diperiksa. Mohon doanya, ya.” Ucap ibunda
Nindy.
“Boleh saya menjenguk ke sana, Tante?” Tanya Adit sopan.
“Silakan.”
Adit memasuki ruangan. Ia melihat Nindy yang tergolek lemah. Tabung
plastic panjang menjulur di lengan Nindy.
“Nin, lu kenapa?”
Nindy tak bereaksi.
“Sorry, aku bikin kamu bunging. Aku mau ngakuin sesuatu.” Adit duduk
di kursi sebelah Nindy.
Nindy masig juga diam.
“Tentang surat itu. Sebenarnya aku yang kirim surat itu.”
Jari tangan Nindy bergerak perlahan.
“Aku nggak peduli kamu dengerin atau nggak, yang jelas semua
surat-surat itu adalah isi hati aku.”
Adit menggenggam tangan Nindy, “Aku saying kamu, Nin.”
“A…dit.” Ucap Nindy lirih.
“Nindy, kamu udah sadar?”
“Udah, dari tadi malah.” Ia tersenyum.
“syukurlah.”
“Yang lain kemana?” Nindy celingukan.
“Cari kita, Nin?” Tanya Dhea di depan pintu bersama Kiki dan orang
tua Nindy.
Nindy tersenyum. Dhea dan Kiki mendekat sedangkan orang tua Nindy
duduk di sofa sebelah kanan tempat tidur.
“Gimana, Nin?”Tanya Kiki, “Udah baikan, kan?”
“Iya.” Nindy tersenyum.”
“Syukurlah. Cepet sembuh, ya.” Dhea menghibur.
Nindy tersenyum, “Uhukk…uhukkk.”
“Nin, kamu kenapa?” Tanya Adit.
Orang tua Nindy beranjak, “Nak, kamu kenapa?” Dokter! Dokter!”
“Uhukk…uhukkk…uhukkk.”
****
Langit begitu meredup. Awan telihat kelabu. Angin berhembus semilir.
Tanah putih itu pun terlihat beku. Adit duduk di sisi kiri sebuah gundukan yang
masih basah. Di atasnya tertancap papan berukir sebuah nama : Nindy Pangestuti.
Adit merogoh saku kemejanya. Ia mengeluarkan sehelai kertas
berlipat. Perlahan ia buka kertas itu.
Cinta bagaikan buih ombak
di pantai
Yang meluas dengan
perlahan
Hingga akhirnya menyentuh
ujung kakimu
Jelek ya? Hehehehe….maklum aku bukan pujangga
sepertimu.)
Aku
tahu. Udah lama, Dit. Tentang surat-surat itu. Tentang satu empat Sembilan dua
puluh. Aku sengaja nggak bilang. Aku ingin mendengar pengakuan itu dari mulut
kamu. Dan aku senang karena sen\mua itu terwujud. Meskipun aku sempat takut.
Takut kalau aku nggak sempet mendengarnya, takut kalau leukemia yang aku derita
selama ini mempercepat rentang usiaku. Tapi Allah memang Maha Tahu. Dia tahu
keinginanku dan Dia mengabulkannya.
Adit, saat kamu baca surat ini, aku yakin, kamu
pasti lagi ada di sampingki. Kamu duduk dan…..menangis mungkin. Tapi sejujurmya
aku nggak ingin kamu menangis. Itulah
alas an kenapa selama ini aku berusaha sehat di depan kalian. Karena aku tidak
ingin kalian bersedih. Aku minta maaf, ya. Sekali lagi, aku tidak ingin kalian
menangis. Tersenyumlah, seperti aku.
Jangan menyerah karena
kesedihan
Lihatlah ke langit
Bintang masih bertaburan
Menjanjikan sinar terang
Terang yang tidak
membakar
Hingga kau merasa tenang,
damai karenanya
Adit melipat surat yang digenggamnya. Air matanya menetes membasahi
pipi.
Dari jauh, Kiki dan Dhea memperhatikan. Terlihat siluet seorang
laki-laki berjongkok di samping sebuah dundukan. Di atasnya bola sinar kuning
kemerahan memancarkan sinar senja. Siluet itu masih di sana, dan masih tetap di
sana sampai bintang-bintang bertaburan memancarkan sinar kedamaian.
**********
ditulis oleh **eruma ristianti**
erumaeru@gmail.com
-------------------------------------------------------
Sekiannnnnnn!
Terimakasih telah membaca cerpen saya :D
Tunggu tulisan saya yang lain, yaaaaa!
Sankyu minna-san ^^